Dunia Muna

seduh kopimu, sudahi sedihmu, mari menjelajahi duniaku

  • Home
  • About Me
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Report Abuse



Diri kita adalah satu-satunya teman yang raganya tidak akan meninggalkan kita. Tapi tidak menutup kemungkinan jiwanya akan menghilang dan tak lagi mendukung jika hadir dan tidaknya sama saja. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi? Bukankah sungguh menakutkan? Untuk apa hidup jika ada raga tanpa dilengkapi jiwa yang utuh? Perasaan kehilangan jiwa ini bisa menjadi salah satu pemicu seseorang tanpa ragu "bunuh diri" seperti yang beberapa waktu lalu justru jadi trend yang ironis.

Bagaimana cara yang semestinya ampuh untuk menghindari perasaan tersebut? Menurutku ada satu jawaban yang pasti bisa membantu, yaitu sesuatu yang sering sekali kita dengar. Self-love. Mencintai diri sendiri. Mudah untuk dikatakan, namun tak segampang itu dilakukan. Bahkan pada kehidupan nyata, beberapa orang justru lebih mudah mencintai orang lain dibandingkan dirinya sendiri karena mengharapkan validasi eksternal untuk membangun kecintaan pada dirinya. Seseorang bisa saja hari ini membantu kita mencintai diri sendiri, tapi di lain hari membuat pernyataan yang berbeda dan malah membuat kita minder dan tidak percaya diri. 


Self love memberikan dorongan yang kuat agar kita bisa bodo amat terhadap pendapat orang lain karena kita sudah menganggap diri kita CUKUP. Terdengar sombong dan egois memang. Tapi mental health kita jauh lebih penting bukan? Kita hanya bisa mengendalikan diri sendiri, itupun tidak semua aspek. Apalagi orang lain yang di luar tubuh kita. Other people are absolutely out of your controls. Namun kita juga perlu membuat catatan bahwa self-love bukan berarti kita harus selalu memprioritaskan kebutuhan diri sendiri. Bukan pula kita menjadi sama sekali tidak mempedulikan orang lain. Kita sendirilah yang mampu menentukan kadar prioritas dan kepedulian tersebut.


Setidaknya ada 5 alasan mengapa self-love sangat penting untuk kamu miliki.

  1. Lebih bahagia

Ada satu prinsip yang selalu aku pegang hingga detik ini yaitu bahwa bahagia adalah cara dan sarana menjalani hidup, bukan tujuan hidup itu sendiri. Karena jika kamu menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan, apakah saat memperjuangkannya kamu tidak bahagia? Bukankah akan semakin membuatmu kacau? Nah, dengan self-love kebahagiaan akan selalu membersamai kita 

  1. Lebih sehat

Lelah psikis tak kalah merepotkan dibanding lelah fisik. Psikis yang terluka akan berakibat pula ke kondisi fisik. Bukankah di dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat? Self-love membantu kita tidak merasa butuh validasi eksternal. Kita tidak lagi burnout hanya karena feedback orang lain yang tidak sesuai ekspektasi. Kecewa tetap boleh, asalkan masih dalam ranah wajar.

  1. Lebih positif 

Seseorang yang mencintai dirinya akan meradiasikan aura positif untuk sekitarnya. Percaya diri namun tetap rendah hati, stay motivated and inspiring at the same time, dan selalu membawa kebahagiaan di manapun ia berada.

  1. Lebih menikmati hidup

Karena tidak terlalu memikirkan kerumitan-kerumitan hidup, kita jadi lebih mudah bersyukur dan mengapresiasi hal-hal sederhana. Perjalanan hidup menjadi lebih menyenangkan karena jiwa kita hadir di setiap kegiatan yang kita lakukan, termasuk dalam beribadah. Bukankah mindful atau bisa kita sebut khusyu’ dalam beribadah adalah nikmat yang tiada tara? 

  1. Lebih tegas

Setelah tahu value diri kita yang sangat layak dicintai, kita jadi lebih mudah untuk bisa membuat batasan (set boundaries) termasuk ke pasangan. Batasan ini bertujuan agar orang lain tidak semena-mena kepada kita. Pasangan yang baik adalah yang menghargai dan mematuhi batasan yang sudah kita buat. 


How you treat others is often a reflection of how you treat yourself. Show yourself first some care, compassion, and love! Semoga dengan tulisan ini kamu tidak lagi mempertanyakan mengapa kamu harus mencintai dirimu sebelum orang lain.


    Akhir-akhir ini kita bisa menemukan banyak sekali jajanan dan minuman kekinian. Setiap jalan utama meskipun di desa pasti ada booth walau hanya satu. Mau itu teh, kopi, Korean street food, dan semacamnya. Semuanya menjamur di setiap sudut kotaku dan aku yakin di kotamu juga.

    Karena aku bukan pecinta teh, jadi aku tidak begitu memperhatikan booth teh yang ada. Aku pecinta kopi, tapi entah mengapa booth yang ada tidak cukup menggugah seleraku. Tapi aku adalah pecinta drakor. Walhasil, aku lebih menyoroti jajanan korea atau jejepangan di jalanan. Di fyp tiktokku sering muncul tuh, yang jualan kimbap dkk di CFD (Car Free Day). Tapi sejauh ini yang paling bikin aku ngiler adalah jajanan yang diposting akun Muzen Food. 

    Usut punya usut, Muzen ternyata adalah singkatan dari mulut netizen yang dulunya jualan makanan-makanan pedas seperti ceker ayam, pentol pedas, dll. Setelah cukup lama vakum, mereka hadir lagi dengan menu baru yaitu nasi bakar (nasbak) dengan isian ayam dan ati. Masih berjalan per-nasbak-an, Muzen Food berekspansi dengan memunculkan Korean and Japanese Series di daftar menunya. Series ini menyediakan banyak sekali varian menu yang bisa kamu mix sesuai selera. Kamu bisa cobain semua rasa sekaligus biar nggak terhantui rasa penasaran selama perjalanan pulang nantinya.


Udah ngiler belum lihat menu best sellernya Muzen Food?

    Aku bukan tipe orang yang ngiler dengan begitu mudahnya hanya dengan foto atau video konten. Tapi testimoni dan review customerlah yang menjadi pertimbanganku untuk mencobanya atau tidak. Beberapa waktu lalu aku melihat di instagram story-nya Muzen Food ada salah satu selebgram Klaten yang memberinya rating 9/10 padahal klaimnya tidak diendorse. Dari situ dan beberapa testimoni lainnya membuatku yakin untuk HARUS COBAIN NIH!


    Riset lebih lanjut menyatakan bahwa ternyata harga yang dipatok tiap slicenya mulai dari 2000an aja. Cocok banget nggak sih buat jajan anak atau bekal makan siang di sekolah/kantor. Presentasi kimbap dan sushi yang sedemikian rupa, nggak bikin kotak makan kotor kebangetan dan nggak repot alias praktis.


    Untuk saat ini mereka baru ada di Klaten, Jawa Tengah. Berdasarkan informasi yang ada di akun sosial medianya, setiap hari mereka buka di daerah depan RSI Klaten. Kamu bisa cek langsung ke instagram mereka untuk tahu lebih lanjut ya. Oh iya, khusus di Hari Minggu mereka juga buka lapak di CFD Klaten. Kalau kamu domisili luar Klaten tapi masih deket, bisa banget tuh agendakan ke sana saat weekend. 


    Duh, nyeritain aja bikin pengen langsung cus ke Klaten. Pasti kamu yang baca ini juga pengen nyobain kan. Kita doa bareng yuk biar Muzen Food bisa buka cabang di kota kita semua.


    Setiap orang terutama perempuan pasti mendambakan kulit wajah yang cerah dan bersih, tak terkecuali aku. Di awal 2017, tepatnya di semester 2 aku memutuskan untuk glow up secara fisik setelah merasa cukup dengan fondasi keilmuan dasar yang menurutku harus dimiliki terlebih dahulu. Fokus utamaku saat itu adalah mencerahkan wajahku agar setidaknya serasi dengan tanganku yang memang lebih cerah. Aneh memang. Jika biasanya wajah orang lain terlalu menyilaukan jika dibandingkan tangannya, yang terjadi padaku justru sebaliknya.

    Singkat cerita, aku cocok menggunakan rangkaian produk Garnier Sakura White Series yang membantu kulit wajahku setidaknya 2 tingkat lebih cerah dibanding sebelumnya. Namun akibat keisengan karena termakan iklan, aku pun mencoba beberapa produk lain di akhir 2019. Yang terjadi justru wajahku breakout sangat parah. Selain karena produk yang tidak cocok juga disebabkan stres karena bersamaan dengan laporan KKN yang menumpuk, laporan pertanggungjawaban BEM yang on-going ditambah proposal tugas akhir yang sudah di ujung tanduk namun belum juga usai. Satu hal yang membuatnya semakin parah adalah kulitku yang menggelap semasa KKN karena 2 bulan di daerah pegunungan.

     Aku bersyukur karena memiliki default setting bodo amat tentang apa kata orang. Aku menganggap orang lain tidak akan peduli dengan yang terjadi padaku. Berbekal kebodoamatanku itu, aku memilih untuk fokus dulu menyelesaikan amanah yang memang sedang banyak-banyaknya. Namun suatu waktu yaitu saat asistensi praktikum fisika dasar, salah satu adik tingkatku tiba-tiba menanyakan sesuatu, ‘Mbak, mukamu kenapa?’. Kejadian hari itu cukup mengubah persepsiku. Aku membuat teori baru bahwa orang yang dekat dan baik pada kita akan memperhatikan dan mempedulikan jika ada hal yang tidak biasanya terjadi.

    Selain itu, akhir 2019 menandai momen demisionerku yang sesungguhnya setelah 3 periode berkecimpung di BEM KM FMIPA UGM. Sebagaimana tradisi tahunan, di akhir kepengurusan selalu ada jadwal foto studio. Aku yang kala itu menduduki jabatan deputi mengharuskan ikut tiga kali sesi foto di hari yang berbeda, dua bareng kementerian dan satu bersama pengurus inti. Bisa kamu bayangkan, foto yang seharusnya diabadikan saat sedang cantik-cantiknya justru aku malah sedang breakout parah. Setiap kali mengingatnya aku ingin menertawakan diri. 

Foto bersama Menko dan 2 Menteri dari setiap Kementerian Lihat betapa parah breakout-ku kala itu

Foto bersama 2 member Kementerian Kewiraswastaan. Di sini tidak terlalu terlihat, namun noda hitam dan tekstur jerawatku is a big no!



        Seraya menyelesaikan tugas satu per satu, aku mencari rekomendasi produk dari beberapa video youtube berdasarkan kisah nyata orang-orang. Dari sekian banyak produk yang disarankan, aku merasa hanya ada 2 yang wajahku butuhkan. Saat itu harganya cukup menguras kantong mahasiswaku sehingga aku memutuskan untuk menunggu tanggal cantik berharap akan ada banyak potongan harga. 

     Beruntung apa yang aku harapkan terwujud. Tipe kulitku adalah oily sehingga aku memilih Cetaphil Oily Skin Cleanser. Untuk ukuran 125 ml aku baru menghabiskannya dalam kurun waktu 2 bulanan. Menurutku, produk ini worth to buy karena affordable dengan fungsi produk yang mantap banget dan diskon up to 50% saat itu. 

Selain itu, bekas jerawatku pasti akan banyak. Aku memerlukan scrub yang halus namun tetap dapat mengangkat sel kulit mati agar tidak membuat jerawatku semakin meradang. St. Ives Apricot Fresh Skin Face Scrub sangat sesuai dengan yang aku butuhkan. Saking bagusnya produk ini aku masih menggunakannya sampai sekarang meskipun tidak rutin. Karena scrubbing cukup dilakukan 2-3 kali dalam seminggu, produk ini sangat awet bahkan bisa bertahan hingga 1 tahun. Kamu wajib mencobanya, baik varian yang sama denganku atau mengeksplor varian lain.

Selain pemakaian kedua produk tadi, aku menerapkan beberapa tips hasil riset dari kreator-kreator di youtube. Berikut hal-hal yang aku lakukan untuk mempercepat penyembuhan: 

  1. Mencuci tangan sebelum mencuci muka 

  2. Mengeringkan muka dengan tisu setelah cuci muka

  3. Tidak sering-sering menyentuh muka

  4. Sering mengganti sprei dan sarung bantal

  5. Sesering mungkin membersihkan HP


Itulah ceritaku yang pernah struggle melawan breakout yang parah. Hingga saat ini dan semoga seterusnya, alhamdulillah jerawat yang nongol masih dalam batas wajar. Aku tidak mengklaim dengan produk dan tips di atas kamu tidak akan jerawatan sama sekali. Muncul jerawat hormonal itu wajar, jadi jangan merasa stress hanya karena jerawat muncul setiap menjelang menstruasi. Your true beauty is inside your soul, girls!



        


Romantisme yang Utuh: Kopi, Senja, Ombak, dan Kamu

Ini kisah tentang pertemuanku dengan satu dari sekian banyak hal yang kusuka. Teman-temanku bilang aku adalah pecinta kopi. Setelah kurang lebih tiga orang yang mengatakannya, aku baru menyadari bahwa aku memang cukup dalam menyukai kopi. Tak sedikit dari mereka yang berhasil kuracuni untuk ikutan doyan ngopi, meskipun banyak juga yang mengeluh dan menyayangkan diri mereka karena tubuh tak mengijinkan menikmati pahitnya.

Bagiku kopi adalah candu. Pahit? Memang. Tapi darinya aku mendapat banyak pelajaran, salah satunya justru datang dari rasa pahit itu sendiri. Sebagaimana otot kita terbiasa dengan beban berat jika sering mengangkatnya, begitu pula kita akan terbiasa dengan pahitnya kopi jika sering mengkonsumsinya. Banyak hal dalam hidup ini yang menggunakan konsep bernama resiliensi ini. Pasti banyak dari kamu yang setuju kalau kopi sangat cocok dipadukan dengan senja. Apalagi untuk menemani deep talk bersama pasangan dan diiringi deru ombak lautan. Kombinasi dari kesukaan-kesukaanku ini adalah hal yang super romantic.

Lalu sebenarnya sejak kapan aku jatuh cinta?

Tahun 2019 lalu, aku KKN ke Pakpak Bharat, salah satu kabupaten di Sumatera Utara. Kamu mungkin asing dengan nama ini seperti yang kupikirkan dulu. Fakfak di ujung timur lebih familiar ketimbang Pakpak Bharat di ujung barat Nusantara.  Salah satu program kerja waktu itu adalah nonton bareng warga. Sebagai panitia yang baik dan bertanggung jawab, aku dan teman-teman menyiapkan kopi. Sejujurnya aku tidak tahu jenis kopi yang kusajikan. Yang aku tahu pasti ini bukan kopi dengan brand yang kukenal sebelumnya. Saat aku mencoba, aromanya dan rasanya berbeda dengan kopi yang pernah kucoba. Sebelum Kembali ke Jogja, aku dan tim memilih untuk extend menghabiskan beberapa hari menikmati keindahan Danau Toba. Di perjalanan menuju Parapat, kami singgah sejenak untuk beli kopi Sidikalang. Fun fact, aku tidur di bus dan titip saja ke temanku yang bahkan aku lupa siapa. Saat kucoba, ternyata kopi ini memiliki aroma dan rasa yang berbeda dengan yang kucoba di acara bersama warga. Dari banyak perbedaan yang pernah kutemui, aku lebih sering mencicipi berbagai jenis kopi dan baru menyadari bahwa setiap jenis kopi memiliki keunikan masing-masing. Meskipun demikian, aku tidak pandai mengingatnya. Bahkan, nikmat kopi Muria khas kota tempatku tinggal baru kurasakan 3 tahun terakhir.

Film Filosofi Kopi

Kamu tahu film Filosofi Kopi, kan? Awalnya aku tidak berniat menontonnya, namun malah menamatkan kedua season-nya hanya dalam satu kali menonton, sekitar tahun 2019. Hanya ingin mencari film-film Indonesia yang ada di youtube dan ketemu season 1. Kemudian aku lanjutkan dengan berselancar di internet untuk menemukan yang kedua. Dari film ini aku semakin menyukai romantisme filosofi di balik penyajian kopi. Bahkan aku sampai mencari tahu bagaimana proses kopi dibuat, meskipun yang kuingat hanya sebatas espresso yang bisa diturunkan jadi americano, café latte dan cappuccino.

Personally, aku tidak mendeklarasikan diri sebagai orang yang paling tahu tentang dunia perkopian. Aku tidak se-passionate El (Julie Estelle di Filosofi Kopi) dalam mengenal kopi. Aku tidak bisa meracik kopi layaknya barista di balik bar. Aku hanya penikmat, pecinta dan pecandu. Pada suatu masa, untuk mengenal lebih tentang kopi aku pernah berburu coffee shop di Kota Istimewa Jogja yang makin hari makin banyak pilihan konsep, vibe, dan menu yang ditawarkan. Sampai detik ini, caramel macchiato milik Hagia Coffee masih menempati peringkat tertinggi dalam perjalanan perkopianku. Kali terakhir aku sana, Hagia masih dalam renovasi. Semoga setelah selesai aku bisa kembali ke sana dan menuliskan ceritaku tentangnya untuk kamu, juga tempat lain yang pernah kusinggahi.

 

 

Langganan: Komentar ( Atom )

Pengikut

Categories

  • Beauty
  • Food & Drink
  • Rekomendasi
  • Self Development

Blog Archive

  • ▼  2023 (4)
    • ▼  November (3)
      • Self-love, Apakah Sepenting itu?
      • Jangan Sampai Kamu Nggak Nyobain Korean Food Satu Ini
      • Kamu Harus Tahu ini: Tips Sembuhku dari Breakout
    • ►  Oktober (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Post

Popular Posts

  • Jangan Sampai Kamu Nggak Nyobain Korean Food Satu Ini
  • Pertemuan Aku dengan Kopi
  • Kamu Harus Tahu ini: Tips Sembuhku dari Breakout

Latest Posts

  • Pertemuan Aku dengan Kopi
  • Kamu Harus Tahu ini: Tips Sembuhku dari Breakout
  • Jangan Sampai Kamu Nggak Nyobain Korean Food Satu Ini
  • Self-love, Apakah Sepenting itu?
Copyright 2014 Dunia Muna.
Designed by OddThemes